Tampilkan postingan dengan label artikel renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2009

Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan


Pesan Bapa Suci Benediktus XVI
untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-43,
24 Mei 2009

***

Teknologi Baru, Relasi Baru:
Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan



Saudara dan Saudari Terkasih,

1. Mendahului Hari Komunikasi Sedunia yang akan datang, Saya ingin menyampaikan kepada anda beberapa permenungan mengenai tema yang dipilih untuk tahun ini yakni Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan. Sesungguhnya teknologi digital baru sedang membawa pergeseran yang hakiki terhadap perilaku-perilaku komunikasi juga terhadap ragam hubungan manusia. Pergeseran itu secara istimewa dialami oleh kaum muda yang bertumbuh bersama teknologi baru dan telah merasakan dunia digital sebagai rumah sendiri. Mereka berusaha memahami dan memanfaatkan peluang yang diberikan olehnya, sesuatu yang bagi kita orang dewasa seringkali dirasakan cukup asing. Dalam pesan tahun ini, Saya ingat akan mereka yang dikenal sebagai generasi digital, dan Saya ingin berbagi dengan mereka, khususnya tentang gagasan-gagasan menyangkut potensi ulung teknologi baru demi mamajukan pemahaman dan rasa kesetiakawanan manusia. Teknologi baru sesungguhnya merupakan anugerah bagi umat manusia dan kita mesti memberikan jaminan bahwa manfaat yang dimilikinya tentu dipergunakan untuk melayani semua manusia secara pribadi dan komunitas, teristimewa mereka yang kurang beruntung dan menderita.

(Manfaat Media Baru)

2. Akses terhadap telpon seluler dan komputer yang kian mudah disertai dengan jangkauan dan penyebaran internet secara meluas sampai ke wilayah jauh dan terpencil telah menjadikan internet sebagai prasarana jalan bagi penyampaian berbagai jenis pesan. Sungguh sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Daya dasyat media baru ini telah digenggam oleh orang-orang muda dalam mengembangkan jalinan, komunikasi dan pengertian di antara individu maupun secara bersama. Mereka telah beralih ke media baru sebagai sarana berkomunikasi dengan teman-teman, berjumpa dengan teman-teman baru, membangun paguyuban dan jejaring, mencari informasi dan berita, serta sarana berbagi gagasan dan pendapat. Budaya baru ini membawa banyak manfaat bagi komunikasi, antara lain keluarga-keluarga tetap bisa berkomunikasi meski terpisah oleh jarak yang jauh, para pelajar dan peneliti memperoleh peluang lebih cepat dan mudah kepada dokumen, sumber-sumber rujukan dan penemuan-penemuan ilmiah sehingga mereka mampu bekerja secara bersama meski dari tempat yang berbeda. Lebih dari itu, kodrat interaktif yang dihadirkan oleh berbagai media baru mempermudah pembelajaran dan komunikasi dalam bentuk yang lebih dinamis dan pada akhirnya memberikan sumbangsih bagi perkembangan sosial.

(Jangan hanya terpukau dengan kecanggihan teknis media baru. Media baru sebagai jawaban mendasar kerinduan umat manusia untuk berkomunikasi)

3. Kita tidak perlu terlalu terpukau dengan kehebatan media baru dalam menjawab kerinduan manusia dalam berkomunikasi dan berelasi dengan sesama, karena sesungguhnya, hasrat berkomunikasi dan bersahabat ini berakar dari kodrat kita yang paling dalam sebagai manusia dan tak boleh dimengerti sebagai jawaban terhadap berbagai inovasi teknis. Dalam terang amanat Kitab Suci, hasrat untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain, pertama-tama harus dimengerti sebagai ungkapan peran-serta kita akan kasih Allah yang komunikatif dan mempersatukan, yang ingin menjadikan seluruh umat manusia sebagai suatu keluarga. Tatkala kita ingin mendekati orang lain, tatkala kita ingin mengetahui lebih banyak tentang mereka dan membuat kita dikenal oleh mereka maka saat itulah kita sedang menjawab panggilan Allah, yakni panggilan yang terpatri dalam kodrat kita sebagai mahkluk yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, Allah komunikasi dan persekutuan.

( Hasrat mendasar manusia adalah berkomunikasi)

4. Hasrat saling berhubungan dan naluri komunikasi yang melekat dalam kebudayaan masa kini sungguh dipahami sebagai ungkapan kecenderungan mendasar dan berkelanjutan manusia modern untuk menjangkau keluar serta mengupayakan persekutuan dengan orang lain. Tatkala kita membuka diri terhadap orang lain, kita sedang memenuhi hasrat kita yang terdalam dan menjadi lebih sungguh manusia. Pada dasarnya, mengasihi adalah hal yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Dalam hal ini, Saya tidak berbicara tentang hubungan sekilas dan dangkal, tetapi tentang kasih yang sesungguhnya, yang menjadi inti ajaran moral Yesus: "Kasihilah TuhanAllahmu dengan sepenuh hati, dengan seluruh jiwa raga, dengan seluruh akal budimu dan dengan seluruh kekuatanmu" dan " kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri" (bdk. Mrk 12:30-31). Dalam terang pemahaman ini, merenungi makna teknologi baru sungguh penting, agar kita tidak sekadar menaruh pehatian pada kemampuannya yang tak dapat diragukan itu, tetapi terutama pada kwalitas isi yang disebarkan melalui media tersebut. Saya ingin mendorong semua orang yang berkehendak baik yang sedang bergiat di lingkungan komunikasi digital masa kini untuk sungguh membaktikan diri dalam memajukan budaya menghomati, dialog dan persahabatan.

Oleh karena itu, mereka yang bergiat dalam pembuatan dan penyebaran isi media baru harus benar-benar menghormati martabat dan nilai pribadi manusia. Apabila teknologi baru dipergunakan untuk melayani kebaikan pribadi dan masyarakat, semua penggunanya akan mengelakkan tukar menukar kata dan gambar yang merendahkan umat manusia, keintiman hubungan seksual, atau yang mengeksploitasi orang lemah dan menderita.

( Media baru sebagai gelanggang berdialog)

5. Teknologi baru juga membuka jalan untuk dialog di antara orang-orang dari berbagai negara, budaya dan agama. Gelanggang digital baru yang disebut jagat maya, memungkinkan mereka untuk bertemu dan saling mengenal kebiasaan dan nilai-nilai mereka masing-masing. Perjumpaan-perjumpaan yang demikian, jika ingin berhasil guna, menuntut bentuk pengungkapan bersama yang jujur dan tepat disertai sikap mendengar dengan penuh perhatian dan penghargaan. Bila dialog bertujuan untuk memajukan pertumbuhan pengertian dan sikap setia kawan, ia harus berakar pada ikhtiar mencari kebenaran sejati dan bersama. Hidup bukanlah sekadar rangkaian peristiwa dan pengalaman. Hidup adalah sebuah pencarian kebenaran, kebaikan dan keindahan. Untuk maksud inilah maka kita membuat pilihan; untuk maksud inilah maka kita meragakan kebebasan kita, dengan maksud inilah-yakni dalam kebenaran, dalam kebaikan dan dalam keindahan-kita menemukan kebahagiaan dan sukacita. Kita tidak boleh membiarkan diri diperdaya oleh orang-orang yang memandang kita semata-mata sebagai konsumen sebuah pasar, yang dijejali dengan aneka ragam kemungkinan, yang mengubah pilihan menjadi barang, kebaruan mengganti keindahan dan pengalaman sukyektif menggantikan kebenaran.

(Persahabatan 'on-line' dan persahabatan riil)

6. Gagasan tentang persahabatan telah mendapat pemahaman baru oleh munculnya kosa kata jaringan sosial digital dalam beberapa tahun belakangan ini. Gagasan ini merupakan suatu pencapaian yang paling luhur dalam budaya manusia. Dalam dan melalui persahabatan, kita bertumbuh dan berkembang sebagai manusia. Karena itu, persahabatan yang benar harus selalu dilihat sebagai kekayaan paling besar yang dapat dialami oleh pribadi manusia. Dengan ini, kita mestinya hati-hati memandang remeh gagasan atau pengalaman persahabatan. Sungguh menyedihkan apabila hasrat untuk mempertahankan dan mengembangkan persahabatan 'on-line' mengorbankan kesempatan untuk keluarga, tetangga serta mereka yang kita jumpai dalam keseharian di tempat kerja, di tempat pendidikan dan tempat rekreasi. Apabila hasrat akan jalinan maya berubah menjadi obsesi, maka hasrat itu akan memarjinalkan pribadi dari interaksi sosial sehari-hari sekaligus menghambat pola istirahat, keheningan dan permenungan yang berguna bagi perkembangan kesehatan manusia.

7. Persahabatan adalah kekayaan terbesar manusia, tetapi nilai ulungnya bisa hilang apabila persahabatan itu dipahami sebagai tujuan itu sendiri. Sahabat harus saling mendukung dan saling memberi dorongan dalam mengembangkan bakat dan pembawaan mereka serta memanfaatkannya demi pelayanan umat manusia. Dalam konteks ini, sungguh membanggakan bila jejaring digital baru beriktiar memajukan kesetiakawanan umat manusia, damai dan keadilan, hak asasi manusia dan penghargaan terhadap hidup manusia serta kebaikan ciptaan. Jejaring ini dapat mempermudah bentuk-bentuk kerjasama antar manusia dari konteks geografis dan budaya yang berbeda serta membuat mereka mampu memperdalam rasa sepenanggungan demi kebaikan untuk semua. Karena itu, secara tegas kita harus menjamin bahwa dunia digital, dimana jejaring serupa itu dapat dibangun, adalah dunia yang sungguh terbuka untuk semua orang. Sungguh menjadi tragedi masa depan umat manusia apabila sarana baru komunikasi yang memungkinkan orang berbagi pengetahuan dan informasi dengan cara yang lebih cepat dan berdayaguna, tidak terakses oleh mereka yang terpinggirkan secara ekonomi dan sosial, atau apabila ia hanya membantu memperbesar kesenjangan yang memisahkan orang miskin dari jejaringan baru itu yang justru dikembangkan bagi pelayanan sosialisasi manusia dan penyebaran informasi.

(Pesan khusus untuk kaum muda: menginjil di dunia digital)

8. Saya bermaksud menyimpulkan pesan ini dengan menyampaikan secara khusus kepada orang muda katolik untuk mendorong mereka memberikan kesaksian iman dalam dunia digital. Saudara dan Saudari terkasih, Saya meminta kepada anda sekalian untuk memperkenalkan nilai-nilai yang melandasi hidup anda ke dalam lingkungan budaya baru yakni budaya teknologi komunikasi dan informasi. Pada awal kehidupan gereja, para rasul bersama murid-muridnya mewartakan kabar gembira tentang Yesus kepada dunia orang Yunani dan Romawi. Sudah sejak masa itu, keberhasilan karya evangelisasi menuntut perhatian yang seksama dalam memahami kebudayaan dan kebiasaan bangsa-bangsa kafir sehingga kebenaran Injil dapat menjamah hati dan pikiran mereka. Demikian juga pada masa kini, karya pewartaan Kristus dalam dunia teknologi baru menuntut suatu pengetahuan yang mendalam tentang dunia jika teknologi itu dipergunakan untuk melayani perutusan kita secara berdayaguna.

9. Kepada anda kalian, orang-orang muda, yang memiliki hubungan spontan terhadap sarana baru komunikasi, supaya bertanggungjawab terhadap evangelisasi 'benua digital' ini. Pastikan untuk mewartakan Injil ke dalam dunia jaman sekarang dengan penuh semangat. Kamu mengetahui kecemasan dan harapan mereka, cita-cita dan kekecewaan mereka. Hadiah terbesar yang dapat kalian berikan kepada mereka adalah berbagi dengan mereka "kabar gembira" Allah yang telah menjadi manusia, yang menderita, wafat dan bangkit kembali untuk menyelamatkan semua orang. Hati umat manusia sedang haus akan sebuah dunia dimana kasih meraja, dimana anugerah dibagikan dan dimana jati diri ditemukan dalam bentuk persekutuan yang saling menghargai. Iman kita mampu menjawab harapan-harapan itu. Semoga kamu menjadi bentaraNya! Ketahuilah, Bapa Suci memberkati anda dengan doa dan berkatnya

Vatikan, 24 Januari 2009, pesta Santo Fransiskus de Sales

Paus Benediktus XVI

sumber : www.mirifica.net

Jumat, 20 Maret 2009

Terapi Kepercayaan kepada Allah

Pengantar


Sudah cukup lama saya disarankan oleh teman-teman serta pembimbing rohani untuk mempercayai Allah. Sejauh ini saya telah mengusahakannya. Kadang saya berhasil, tetapi di lain kesempatan saya menahan kepercayaan itu, atau menawarkannya untuk kemudian menariknya kembali sampai saya tersandung sendiri.

Seringkali saya bertanya , “Apakah kepercayaan merupakan sesuatu yang saya berikan kepada Allah, ataukah sesuatu yang Allah berikan kepada saya?” Saya berkesimpulan bahwa keduanya berlaku. Kepercayaan kepada Allah merupakan karunia sekaligus pilihan. Rahmat sekaligus usaha. Kepercayaan mungkin tidak membantu seseorang memperoleh tempat parker atau membayar tagihan-tagihan rumah tangga. Kepercayaan merupakan suatu kebiasaan.

Namun kepercayaan dapat membawa kejelasan untuk memahami, keberanian untuk memanfaatkan kesempatan, ketenangan untuk menanti saat ketika penantian itu sendiri adalah semua hal yang dapat kita kerjakan.

Saya pun telah menyadari bahwa semakin kita mempraktekkan “terapi” kepercayaan kepada Allah, akan semakin kuatlah otot-otot rohani kita bertumbuh. Karenanya saya mengajak Anda bergabung dengan saya untuk menimba setiap kata dalam buku ini sebagai latihan rohani. Kembangkan, bergumullah bersamanya, menangis serta berdoalah bersamanya.

Percaya kepada Allah bisa diusahakan. Kepercayaan kepada Allah merupakan kebijaksanaan. Percayalah kepadaNya.



  1. Tidak peduli apa yang telah Anda ketahui tentang keragu-raguan, ketakutan, atau pengkhianatan. Engkau ada di sini, saat ini, tepat di tempat engkau harus berada. Percayalah pada benang yang menjalin saat-saat hidupmu. Benang tersebut adalah aliran kasih.

  1. Pastikanlah untuk menjadi seperti bunga daisy atau seekor burung gereja. Sapalah fajar, percayalah bahwa engkau memiliki apa pun yang engkau perlukan untuk menjadi siapa engkau sebenarnya. Ketika hari mendatangkan badai dan kekeringan, burung serta bebungaan bertahan hidup dengan berani. Percayalah. Percaya apa adanya.

  1. Tuhan hanya menginginkan yang terbaik bagimu. Jalannya boleh jadi tidak mudah, rata, singkat, atau tanpa tikungan. Namun, jalan tersebut akan membawamu ke tempat di mana engkau harus berada bersama Allah sebagai teman seperjalanan yang sejati.

  1. Kepercayaan mengiringimu masuk ke dalam alunan musik alam semesta. Dengarkanlah, dan harmoni kehidupan akan menjadi lebih jelas bagimu.

  1. Kepercayaan berdiri tegap, mata selalu berjaga untuk melihat, tangan terulur, telapak tangan terbuka untuk menerima kebaikan. Bersikaplah percaya.

  1. Bergembiralah, tanpa mencurigai. Harapkanlah anugerah, bukan masalah. Berharaplah akan rahmat yang terselubung dan bersiaplah mengenalinya saat waktunya tiba.

  1. Engkau bisa belajar bergantung kepada Allah dengan pertama-tama mempercayai seorang sahabat atau pasanganmu, atau berbagi rasa dengan seseorang yang sedang berjuang. Milikilah iman bahwa Allah akan memberikan petunjuk yang engkau perlukan.

  1. Latihlah kesadaran mengenai Allah di saat-saat rahmat, sehingga kehadiran Allah tetap terasa saat kesulitan menimpa. Kenali dan hormatilah perwujudan-perwujudan Allah : dalam alam sekitar, dalam diri sesama, di tempat tidak terduga, dalam mujizat yang rasanya tidak mungkin.

  1. Latihlah mantra kepercayaan : “Saya percaya.”; “Saya percaya diri.”; “Saya tidak takut.” Ungkapan tegas tersebut membangun jembatan yang melintasi cela-cela ketakutan dalam benak, hati serta jiwamu.

  1. Engkau bisa belajar bergantung kepada Allah melalui latihan iman. Atau engkau boleh menggenggam kebenaran kepercayaan sambil bertahan dengan kuku jari di satu tangan melewati jurang rohani. Kadang, beberapa orang harus berlatih dengan lebih giat. Bertahanlah!

  1. Dalam jiwa dan ragamu, Allah telah menanamkan benih-benih kepercayaan. Kebanyakan orang bisa mempercayai hati mereka untuk berdegup dan paru-paru mereka untuk bernafas. Yang lebih penting lagi, setiap orang bisa mengetahui apa yang baik dan kudus. Biarlah kekudusan dalam dirimu mengarahkanmu kepada kepercayaan kepada Allah.

  1. Latihlah doa kepercayaan. Berbaringlah di tanah atau beristirahatlah di sebuah kursi dengan kedua telapak tangan terbuka di pangkuanmu. Biarkan seluruh tubuhmu berkata, “Saya akan membiarkan kepercayaan Allah merasuki hidupku. Saya siap.”

  1. Iman mengharapkan hidup mengungkapkan kebaikannya. Ketakutan menghalau pergi datangnya hari-hari itu. Engkau bisa merasakan pengaruh ketakutan dalam tubuhmu. Relakan dirimu berada dalam pelukan Allah.

  1. Engkau mempercayai adanya matahari, bulan dan gelombang. Engkau percaya bahwa Allah memiliki rencana untuk melebur siang menjadi malam, untuk mengubah musim-musim dalam tahun. Akankah Allah gagal merencanakan sesuatu bagimu?

  1. Engkau percaya pada aliran listrik, air ledeng, jam weker. Engkau percaya pada lampu lalu lintas, bus dan jadwal pesawat terbang, lemari es dan pemanas ruangan. Semua hal tersebut tidak abadi. Allah lebih layak mendapatkan kepercayaanmu darpada ramalan cuaca! Kembalilah percaya jika engkau merasa hal itu harus engkau lakukan.

  1. Jika engkau tidak dapat mulai mempercayai kasih Allah bagimu, mulailah dengan percaya bahwa permukaan bumi bisa menopang berat badanmu saat gravitasi bumi menahanmu supaya tidak melayang. Dalam tindakan yang paling sederhana, engkau mengungkapkan kepercayaan besar.

  1. Kepercayaan tidak menjadikan kita kebal masalah. Hal buruk juga menimpa orang yang percaya. Namun kepercayaan itu bisa memberikan kita pegangan saat hidup berbeban berat. Bertahanlah, berpeganglah kuat, ulurkan tanganmu!

  1. Benar bahwa Allah berkarya secara misterius, tetapi seringkali melalui proses alamiah, melalui orang biasa dan melalui kejadian sehari-hari. Amatilah bagaimana segala sesuatu berjalan sebagaimana mestinya, saat kebenaran muncul, saat penyembuhan terjadi. Percayalah pada mukjizat yang terjadi setiap hari.

  1. kepada aiapakah engkau sandarkan kepercayaanmu? Gambarkanlah Allah sebagai pribadi tersebut : nenekmu, pelatihmu, guru taman kanak-kanakmu. Percayalah kepada Allah sebagaimana engkau mempercayai orang-orang tersebut, untuk membalut luka-lukamu, mengringkan air matamu, mengantarmu ke jalan yang baru.

  1. ceritakan salah satu keraguan atau ketakutanmu pada orang-orang etrdekatmu. Atau mintalah bantuan kepada orang yang engkau kenal. Saat sesamamu menanggapi dengan kemurahan hati dan niat baik, engkau mendapatkan petunjuk terkecil dari kebaikan yang Allah harapkan bagiMu.

  1. Saat Engkau mengunjungi lembah kekelaman, jangan pergi dengan tangan kosong. Untuk menghadapi teror sekecil apa pun, engkau membutuhkan paling kurang sepuluh kenangan kepercayaan yang paling disukai, sebagai pengalaman berharga. Putar ulang dan simpanlah kenangan tersebut sekarang, untuk mengatasi saat-saat kegelapan di masa yang akan datang.

  1. Kepercayaan bisa dirusak atau diputarbalikkan oleh tindakan sesama. Engkau bisa berputus asa atau sebaliknya bisa mempertebal imanmu karena dasar kebaikan sesama dan kekuatan Tuhan untuk menyembuhkan segala luka.

  1. Kepercayaan bisa diuji oleh kekhawatiran yang terpicu oleh sakit hati atau pengkhianatan, kesulitan atau kerugian. Ketika engkau ragu, ingatlah kesetiaan dan berkat-berkat masa lalu, dan berharaplah akan berkat-berkat yang baru. Ketahuilah bahwa Allah bisa mengubah cobaan menjadi kemenangan

  1. Saat jalanan buntu, pesawat terbang jatuh, bayi meninggal, panenan gagal, atau rumah terbakar, Allah hadir. Namun, Allah bukanlah jalan buntu, kematian, jatuhnya pesawat terbang, kegagalan, atau api. Berpalinglah kepada Allah untuk menimba kekuatan di tengah kepedihan, untuk mengubah kerugian menjadi keuntungan, untuk mengubah akhir menjadi awal yang baru.

  1. Kita percaya bahwa ciptaan berkembang berdasarkan kehendak Allah, tetapi kita juga membantu mewujudkannya. Manfaatkan karunia istimewa yang engkau miliki untuk menyalurkan kebaikan, damai, dan kesembuhan pada dunia yang membutuhkan.

  1. Iman berarti mencari rencana Allah, baik dalam peristiwa yang penuh rahmat, maupun kejadian yang mengancam keselamatan kita. Iman merupakan mata gergaji kebenaran kepercayaan, menyadari campur tangan Allah, baik dalam kekacauan maupun dalam kedamaian. Berpeganglah erat padaNya melewati jatuh bangunnya kehidupan.

  1. Allah menolongmu saat engkau membantu dirimu sendiri. Seperti ungkapan peribahasa, “Panggillah Allah, tapi tetap dyunglah perahumu melewati bebatuan.” Lakukanlah apa yang engkau rasa perlu. Kayuhlah dayung ke arah yang benar.

  1. Menyerah kalah dan kepercayaan bukanlah saudari kembar. Menyerah berarti tunduk di bawah beban berat. Kepercayaan berarti menunggu. Percayalah seperti seorang anak kecil; dengan kepolosan dan kepercayaan berharap akan kebaikan yang masih akan terjadi.

  1. Jika engkau meutuskan untuk berpegang sepenuhnya pada kekuatanmu sendiri dalam mengatasi dilema kehidupan, Allah tidak akan mencabut polis jaminan surgawimu. Engkau selalu dikasihi. Andalkanlah Allah sebagai kesabaran yang abadi.

  1. Kepercayaan bukanlah semata-mata suatu sikap. Kepercayaan adalah tindakan. Menantilah dalam kepercayaan, dengan pengharapan. Bertindaklah dalam kepercayaan, dan engkau membuka dirimu sendiri terhadap karya ilahi dan kelimpahan dalam hidupmu.

  1. Sebuah dunia tanpa kepercayaan adalah mustahil, tidak teratur dan tidak ramah. Demikian juga hidup tanpa kepercayaan adalah hidup yang kerdil, tegang, dan rapuh. Tempatkan tanganmu dalam tangan Allah, untuk meyakinkan kita mengahdapi dunia dan kehidupan yang terlalu dangkal untuk cinta.

  1. Menggantungkan kepercayaan kepada Allah bukanlah kebodohan atau fantasi belaka. Bukan pula omong kosong atau kesia-siaan. Kepercayaan membutuhkan dan menciptakan keberanian. Jadilah orang yang kuat.

  1. Iman membebaskan kita tidak saja dari beban masa lalu, tetapi juga dari beban masa depan. Percayalah, dan engkau akan menemukan dirimu saat ini juga di hadirat Allah.

  1. Iman menuntut kita percaya pada yang tidak kelihatan. Apa yang tidak bisa terkesan tanpa berkat. Namun rahmat itu sekuat daya tarik bumi. Bersandarlah pada Yang mahakuasa, dan engkau akan menemukan dirimu ditarik ke arah surga sekuat daya tarik bumi menarikmu ke dunia.

  1. Janganlah hanya karena setiap kali engkau merasa tidak tenag dan tidak terilhami, engkau mencampakkan 101 kepercayaan kepada Allah. Terkadang perasaan ditinggalkan memang hadir. Ikuti alirannya, jalani alur yang ada, dan ungkapkan percakapan yang ada, serta lantunkan doa yang ada hingga pulihnya rasa Allah besertamu. Percayalah tanpa syarat.

  1. Kepercayaan bukanlah peralatan rohani yang bisa dimanfaatkan hanya pada saat krisis, seperti parasut atau kantong penyelamat. Ketergantungan pada Allah merupakan ungkapan kebenaran, seluruh jiwamu, suatu cara hidup. Percayalah pada Allah kapan pun, di mana pun, dalam hal apa pun. Selamanya.

  1. Allah mempercayaimu. Allah bergembira dalam keinginanmu untuk memperkokoh imanmu. Setiap gerakan hatimu yang mencari adalah karunia kudus. Percayalah dalam pencarian itu snediri.

  1. Allah mengundang, “Percayalah kepadaKu!” Apakah jawabanmu? Dapatkah engkau berkata, “Jangan hari ini,” atau “Saya akan mempertimbangkannya,” atau “Mengapa saya harus percaya?” Atau engkau hanya berbisik, “Ajarilah aku untuk percaya walaupun aku takut, aku menempatkan tanganku dalam tanganMu!”

Diambil dari buku “Terapi Kepercayaan kepada Allah”, oleh Carol Ann Morrow, penerbit Obor, Jakarta